Rabu, 02 Desember 2009

nikmat Allah tak terkira

manusia itu penuh dengan keserakahan... ketika telah diberi apa yg dimau, selalu ingin yg lebih, lebih lagi dan lagi... kpn manusia bs merasa cukup..??

terkdng Q pun merasakan hal yg demikian.. satu keinginan terpenuhi pngn yg lain lg..tp itu adl sifat yg sngt manusiawi.. tapi mskipun Q bgtu, Q berpedoman bhw Q hrs bs merasa ckp ats nkmt yg Q dptkn,, mski Q ska pngn ini itu, tp Q tdk prnh memaksakn dr untk mndptknny,, sebisa mgkn berusaha,, namun jika tdk trcapai jg gpp... itulah peganganQ..

asal Qt mau brsyukur,, sbnrnya nikmat Allah itu tiada hntiny mengalir pd Qt.. dl Q prnh hmpr menyianyiakn nkmt dr Allah... Q down kala itu, mntalQ tdk kuat mnghdpi khdpnQ yg bru, yg pnh dngn ksbkn kmps yg trasa sngt mnyiksaQ,, hmpr saja Q ingin brhnti d awal smstr pertama.. Tp lantas Q ingt,, Q msk disini adl nkmt yg sngt bsr dr Allah.. Q msk dsni tnpa tes apapun,, tnp biaya sepeserpun..
Alhmdllh ktka itu Q msh ingt bhw ap yg Q dptkn saat itu adl anugrah yg sngt luar biasa dr Allah,, nkmt yg blm tentu dpt drsakn olh orng lain... Lantas Q brpkr dan bngkit,, ini adl nikmat dan amanat dr Allah,, jka Q brhnti dsini brarti Q menyianyiakn nkmat Allah,, dan jka Q mnyianyiaknny maka Allah akn mngurangi nkmtNya untkQ..

akhrny Q bngkit dr keterpuruknQ thd dunia baru ini.. Q mulai bljr untk terbiasa dgn hal2 yg tak biasa sblmnya..

kini,,,lebih dr 3thn Q dsini,,brhrp sbntr lg bs prgi dr sini,,meraih mimpi,,meraih cita2,,meraih angan dan harapan..

Minggu, 17 Mei 2009

Futuristic Cybertecture Egg

Hi-tech building from James Law Cybertecture International brings you excitement and great imagination of what will futuristic building will look like. Cybertecture Egg is the latest design of this firm, the egg-shaped high-tech building will be the iconic architecture, environmental design, intelligent systems, and an awe-inspiring landmark in the city.





Cybertecture integrates technology, multimedia, intelligent systems and user interactivity to create customizable living and working spaces that focus on experience. The Cybertecture Egg takes this principle working theme a step further with ‘cybertecture health’ - interactive features that monitor occupant’s vital health statistics, like blood pressure and weight. In
keeping with the focus on health and wellness, users can customize their views with real time virtual scenery.

The oblong office building incorporates passive solar design to decrease heat gain and lower energy loads. An elevated garden also moderates temperate by using natural vegetation to assist with cooling the building envelope. The Cybertecture Egg will use solar photovoltaic panels and rooftop wind turbines to generate onsite electricity. Water conservation will be managed with a greywater recycling system that will harvest water for irrigation and landscaping.

It is also said that we can see this futuristic “Cybertecture Egg” building by the end of 2010. So, let’s wait and see…











http://www.tuvie.com/futuristic-cybertecture-egg-architecture-with-high-tech-solutions

Senin, 06 April 2009

alam wisataku...

Aku baru tau, ternyata bisa juga nemuin keyword parang ijo di google. Tadinya aku ragu kalo aku bakal bisa nemuin parang ijo dari web, ee ternyata nemu juga... parang ijo adalah suatu daerah wisata alam dengan air terjunnya yang terletak di kecamatan Ngargoyoso, kabupaten Karanganyar. Emang sih belum sepopuler Grojogan Sewu Tawangmangu, tapi tempat ini ga’ kalah eksotisnya bila dibanding Grojogan Sewu. Tempatnya adem, ga’ byk polusi, pokok’e maknyusss…

Ga’ cuma air terjun Parang ijo yang ada di kawasan ini, tapi masih ada Candi Sukuh, Candi Cetho, grojogan Jumog, dan wisata kebon teh… Buat yang berdomisili di kabupaten Karanganyar tempat ini ga’ terlalu jauh koq dari kota Karanganyarnya sendiri,,, yaaa, kira2 cukup tempuh waktu kurang dari 1jam juga udah nyampe…
Kalo udah disana jangan lupa mampir tempatku yaa,,, he he he… ^_^

potonya kutampilin kapan2 ya,,, loadinge lama ki... okay....

Selasa, 10 Maret 2009

fresh and sueger....













temen2, aku mau kasih referensi ni bagi temen2 yang ada dimana aja ayang suka jalan2...

ada suatu (bukan satu) tempat yang asyik bgt buat dijadiin salah satu tempat favorit buat refreshing...
tempatnya asyik bgt, sejuk (udaranya sueger), ga banyak polusi, apik tenan lah pokok'e pemandangane...
letaknya kira2 50km (bisa kurang bisa lebih, lha aku ga ngukur koq, cm ngira2 aja) dari kota solo..ga jauh khan..? cuman ya butuh seikit perjuangan buat sampe di tempat2 ini, capek? enggak koq...

Rabu, 04 Maret 2009

The Daylight-Optimised Fasade

Assalamualaikum saudaraQ sekalian...(he..he..)
(bagi yang jawab dosa lho...)


Jum'at 27 Februari kemaren kan dapat tugas lagi dari arsitektur dijital, dan kelompokQ kebagian bab tentang The Daylight-Optimised Fasade (kalo dibahasaIndonesiain kira-kira Mengoptimalkan Pencahayaan siang hari dengan Fasad, menurut bahasaQ seperti itu)...

Trus, pas kita pada diskusi, maksud yang bisa aku tangkap dari bahasan itu kira-kira kayak dibawah ini ni.... karna ga sempet ngganti kata-kata akhirnya kumasukin aja yang dari format karya ilmiah....

Selamat membaca,,, dan semoga bermanfaat ya....

Wassalam......
^_^





THE DAYLIGHT-OPTIMISED FACADE

Andrew Macintosh and Richard Priest, Feilden Clegg Bradley Studios

INTISARI

  1. Kompleks akademik baru Leeds Metropolitan University yang menggabungkan beragam fungsi kedalam dua bangunan (landmark) utama.
  2. Konsep awal menjelaskan bahwa lantai bawah yang mendapatkan banyak bayangan dari bangunan lain di sekitarnya memerlukan jumlah kaca yang lebih banyak untuk mendapatkan tingkat terang yang sama dengan lantai atas yang mempunyai akses cahaya yang lebih besar.
  3. Daylight factor merupakan persentase rasio antara illuminance di dalam ruang dan yang tersedia di luar.
  4. Daylight factor tiga persen disepakati sebagai keseimbangan antara persediaan cahaya alami, menghindari anas yang berlebihan, dan kesolidan dari tampilan bangunan.
  5. Rincian data dalam lembar Excel diberi kode warna, putih untuk kaca biasa, hijau untuk solar glass, pink dan merah berada pada level cahaya alami harus dikurangi.
  6. Semua data dari lembar Excel harus dapat dengan mudah diimpor kedalam aplikasi yang lain.
  7. Algoritma membagi fasad kedalam kelompok empat modul yang menggunakan kaca selebar 1.5 meter. Kemudian penempatannya dilakukan secara acak dan disempurnakan untuk alasan estetika.
  8. Desain fasad disesuaikan untuk mengakomodasi area non-standar.
  9. Radiosity renderer Maxwell digunakan untuk stimulasi jumlah illuminance daylight fasad pada proyek lainnya.

ISI

Bab ini berkaitan dengan kompleks akademik baru untuk Universitas Leeds Metropolitan yang dekat dengan pusat kota Leeds, yang menggabungkan beragam kegunaan dalam dua bangunan landmark utama, yang salah satunya mencapai 23 lantai. Sebuah ruang publik utama yang menghubungkan bentuk daerah perkotaan sebagai elemen lansekap yang signifikan dalam skema. Bangunan termasuk kantor-kantor yang baru dan ruang mengajar untuk empat departemen, yang terdiri dari Departemen untuk Studi Kebudayaan, Departemen untuk Ilmu Sosial, Departemen untuk Arsitektur, Lansekap, dan Desain; dan Departemen Seni dan Grafik. 10.000 m2 ruang mengajar dan ruang kantor sedang disediakan hanya sebagai shell dan core, sehingga dianggap sebagai denah ruang kantor yang terbuka untuk tujuan pengembangan desain yang dijelaskan disini. Feilden Clegg Bradley sekarang juga telah ditunjuk untuk melaksanakan tata ruang dan perencanaan ruang untuk empat departemen. Kegunaan lainnya terdiri Gereja Baptis baru, sebuah café/ruang pameran, dan 240 kamar tidur mahasiswa/studio. Skema izin perencanaan diberikan pada bulan Maret 2007.

Muka luar bangunan adalah sebuah fasad layar hujan. Konsep awalnya adalah jumlah kaca yang lebih besar pada lantai bawah dan fasad akan menjadi lebih solid secara progresif pada lantai bangunan yang makin tinggi. Pada tahap awal ini, secara acak, panel kaca dengan tinggi penuh dengan kedalaman yang bervariasi. Namun, untuk memudahkan konstruksi dan efisiensi biaya, ini kemudian dirasionalkan kedalam grid panel selebar 1.5 m. Studi fasad mengikuti logika intuitif untuk menyediakan pencahayaan siang hari yang memadai pada ruang dalam, lantai tipikal atas mempunyai akses yang lebih besar untuk cahaya sehingga membutuhkan lebih sedikit kaca, dimana lantai bawah dengan lebih banyak bayangan dari bangunan di sekitarnya, membutuhkan lebih banyak kaca untuk mendapatkan interior yang sama terang. Meskipun pada dasarnya adalah benar, itu sudah jelas bahwa tidak akan sesuai untuk mengulang pola yang sama pada semua sisi/keliling bangunan. Rencana yang tajam dan masa yang kompleks berarti bahwa keberadaan bangunan dan proyek itu sendiri akan menyebabkan bayangan yang bervariasi di sekitar lokasi, dan kemudian ada pertanyaan dari tiap aspek fasad dalam kaitannya dengan matahari. Semua penelitian, analisis, dan program yang diuraikan di bawah ini merupakan konsekuensi dari keinginan tim untuk menguji intuisi awal ini, dan keinginan untuk menuju tempat dimana hasil desain diambil.

Tingkat terang dalam ruang “lit” alami akan berfluktuasi tergantung pada seberapa terang di bagian luar, sehingga tingkat cahaya biasanya dinyatakan sebagai persentase rasio antara “illuminance” di dalam dan yang tersedia di luar. Ini disebut faktor daylight (pencahayaan siang hari), tetapi itu adalah atribut dari sebuah titik tertentu dalam ruang saja, yang lebih umum digunakan adalah faktor rata-rata pencahayaan siang hari, diambil dari seluruh ruang secara horizontal. Rekomendasi yang berbeda, tetapi kurang dari dua persen adalah kemungkinan akan memerlukan pencahayaan buatan dan lima persen akan cenderung dianggap sangat “lit”.

Berdasarkan analisis dari potongan tipikal bangunan, beberapa perhitungan awal dibuat untuk pencapaian faktor daylight (pencahayaan siang hari) dan target tiga persen disepakati sebagai keseimbangan antara persediaan cahaya alami, menghindari panas yang berlebihan (yang dibahas nanti) dan kesolidan dari tampilan bangunan. Analisis awal dari jumlah kaca yang dibutuhkan pada fasad yang berbeda untuk mencapai faktor rata-rata daylight tiga persen dikonfimasikan bahwa ada lebih banyak variasi di sekeliling bangunan daripada secara vertikal. Gradasi vertikal dalam persentase kaca yang dibutuhkan adalah hanya terang pada area fasad yang dekat dengan bangunan-bangunan lain. Sejak tim bersaing untuk memajukan desain fasad pada basis ini, data yang lebih rinci pada bayangan yang diminta dari Paul Littlefair dari Building Research Establishment (BRE) UK. Data ini memberikan kami sebuah nilai (yang mengukur area langit dari yang jendela dapat terima cahaya) untuk setiap modul 1.5 meter pada setiap lantai bangunan, dari mana ia dapat menghitung persentase optimal kaca dari modul itu. Data ini dalam lembar Excel diberi kode warna dan diterapkan sebagai skala fasad ke model 1:500 untuk memungkinkan kita untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi.

Memberikan pencahayaan alami kedalam ruang selalu dekat dengan bahaya dari panas yang berlebihan. Masalah ini dihubungkan dengan melakukan studi serupa tentang area maksimum kaca yang akan mungkin tanpa panas yang berlebihan. Untuk wilayah Leeds, bagian L dari bangunan UK merekomendasikan menerima panas sampai 41 watt per meter persegi lantai bangunan (dihitung hanya area di lantai 6 meter dari fasad); 21 watt per meter persegi diasumsikan untuk bagian dalam, maksimal 20 watt per meter persegi untuk mendapatkan sinar matahari. Rincian data untuk ini juga disediakan oleh Paul Littlefair dan sekali lagi dikonversikan kedalam lembar berwarna untuk efek visual. Karena hasil ini tergantung pada orientasi serta bayangan dari bangunan, mereka memperlihatkan pola yang sedikit berbeda dari yang pertama. Perbandingan dari dua dataset menunjukkan bahwa daerah penting dari bangunan tidak dapat mengizinkan tingkat daylighting yang diinginkan tanpa kelebihan panas. Untungnya ada solusi yang relatif mudah untuk sebagian besar masalah dalam bentuk solar glass. Solar glass hanya mengizinkan sekitar 40 persen dari panas matahari untuk diteruskan melalui kaca (dibandingkan dengan sekitar 70 persen untuk lebih banyak kaca dobel yang tipikal). Dengan menggunakan ini jika diperlukan, itu mungkin untuk menjaga level kaca di sebagian besar keliling bangunan. Dimana suatu konflik ditetapkan, pertimbangan dari panas yang berlebihan menjadi hal yang didahulukan. Sebuah potongan fasad diberi kode warna, putih untuk kaca biasa, hijau untuk solar glass, pink dan merah dimana level cahaya alami harus dikurangi untuk menghindari panas yang berlebihan. Ini dipertimbangkan sebuah masalah jika hasil faktor rata-rata daylight dibawah dua persen, tetapi semua daerah dimana ini terjadi dapat digunakan untuk ruang non-kerja seperti akses core, tanaman atau entrance.

Sejauh ini, semua perhitungan dan analisis telah dikerjakan menggunakan lembar Excel. Tugas sekarang adalah mengkonversi semua data ini kembali menjadi sebuah desain fasad. Hal ini dilakukan dengan program Visual Basic for Applications (VBA) dengan Excel yang dikembangankan menggunakan keahlian komputer. Ini telah dipilih dalam preferensi untuk aplikasi yang berdiri sendiri, karena kemudian akan diperlukan program extensif yang lebih banyak dan pekerjaan mungkin digunakan kembali. Membuat keputusan ini juga berarti bahwa solusi apapun yang dihasilkan harus dengan mudah diimpor kedalam aplikasi lainnya seperti MicroStation.

Algoritma adalah serangkaian pernyataan kondisional, membuat keputusan yang berbobot berdasar pada analisis numerik daylighting dan desainnya pada perulangan yang tetap. Pengguna menambahkan variabel kontrol yang mudah tentang bagaimana algoritma menjawab syarat perubahan desain. Algoritma membagi fasad kedalam kelompok empat modul 1.5 meter. Setiap kelompok ini kemudian rata-rata untuk mendapatkan jumlah kaca yang dibutuhkan untuk bagian bangunan itu, dan ditetapkan sejumlah panel kaca yang sesuai, yang ditempatkan secara acak oleh program. Proses ini kemudian diulang untuk setiap kelompok modul di semua keliling bangunan. Penempatan acak selanjutnya disempurnakan untuk estetika daripada alasan ilmiah karena maksudnya adalah bahwa Corten umumnya pada bagian atas bangunan, akan terlihat seperti jika itu menitik ke bagian bawah dari bangunan. Dalam rangka untuk membantu ini, algoritma menghasilkan keputusan yang berbobot untuk mengatur soil dan modul kaca berdasar pada panel di sekitarnya, sehingga kemungkinan penempatan soil panel dibawah atau secara diagonal di bawah soil panel lain yang ditambahkan. Ini membuat hubungan antara soil panel di bagian atas fasad dan bagian yang bawah, membuat tampilan dari Corten yang menitik kebawah fasad. Ini semua dijalankan dengan satu tombol dalam Excel, yang berarti bahwa banyak pilihan yang dapat dibuat sangat cepat dan salah satu pilihan yang lebih disukai.

Desain fasad disesuaikan secara manual untuk mengakomodasi area non-standar seperti tanaman, core dan entrance. Masalah yang detil dari pemasangan panel Corten kembali ke slab berarti bahwa soil panel itu harus melampaui slab dibawah, sehingga menghubungkan perjalanan Corten dan mengurangi area kaca yang tidak perlu. Sebelum melakukan hal ini, hasilnya dicek ulang dengan gambar aslinya untuk melihat apakah program komputer yang dikellingi area kaca atas atau bawah. Bila memungkinkan, setengah panel ditambahkan atau diperpanjang menurut logika ini, sementara dalam proses memungkinkan beberapa kebebasan estetika untuk menyesuaikan tampilan fasad.

Meskipun itu telah dapat dihubungkan dengan algoritma dengan Excel langsung ke MicroStation untuk memulai menggambar, menggunakan sel-sel yang dibuat cepat untuk menerima ini secara manual, dan tekanan waktu berarti bagi kami untuk memilih rute yang lebih aman. Sebagai perkembangan dari ide ini, radiosity renderer Maxwell telah digunakan untuk stimulasi jumlah illuminance daylight fasad pada proyek lainnya. Rendering dilakukan selama 24 jam sepanjang periode musim panas dan musim dingin, secara efektif memberi sebuah analisis sepanjang tahun. Program yang berdiri sendiri kemudian dibuat untuk menganalisa kecerahan kompilasi rendering ini. Hasil dari percobaan ini berhasil dalam pencerminan hasil analisis daylight mereka oleh BRE dan oleh karena itu memberikan salah satu cara untuk melakukan seluruh analisis tanpa bantuan dari luar.

KESIMPULAN

Bab ini membahas tentang penggunaan program Excel untuk membuat fasad bangunan yang berupa kaca yang divariasikan untuk mendapatkan cahaya alami. Lantai bangunan bagian bawah memerlukan kaca yang lebih banyak dari pada lantai atas karena ia mendapatkan bayangan dari bangunan lain di sekitarnya. Kaca yang digunakan dibuat dalam panel selebar 1.5 meter. Berdasarkan analisis dari potongan tipikal bangunan, target tiga persen disepakati sebagai keseimbangan antara persediaan cahaya alami, menghindari panas yang berlebihan (yang dibahas nanti) dan kesolidan dari tampilan bangunan.Data ini dalam lembar Excel diberi kode warna dan iterapkan dalam model skala 1:500 untuk dapat melihat dengan jelasapa yang terjadi.

Kemudian didapatkan lagi data tentang panas yang dapat diterima oleh bangunan: 41 watt per meter persegi lantai bangunan (dihitung hanya area di lantai 6 meter dari fasad); 21 watt per meter persegi diasumsikan untuk bagian dalam, maksimal 20 watt per meter persegi untuk mendapatkan sinar matahari. Rincian data ini dikonversikan lagi kedalam lembar berkode warna. Perbandingan dari dua dataset menunjukkan bahwa daerah penting dari bangunan tidak dapat mengizinkan tingkat daylighting yang diinginkan tanpa kelebihan panas. Kemudian ditemukan solusi solar glass. Solar glass ini digunakan ketika ia diperlukan pada bagian bangunan tertentu. Kemudian dalam lembar kerja Excel, tiap jenis kaca diberi kode warna, putih untuk kaca biasa, hijau untuk solar glass, pink dan merah untuk level cahaya alami yang harus dikurangi. Data ini diuji untuk mendapatkan hasil seperti yang diinginkan yaitu dengan tingkat panas yang dapat diterima oleh bagian-bagian bangunan. Namun jika terjadi masalah faktor rata-rata daylight dibawah dua persen, daerah ini dapat digunakan untuk ruang non-kerja.

DAFTAR PUSTAKA

SPACECRAFT: DEVELOPMENTS IN ARCHITECTURAL COMPUTING (The daylight-optimized façade, Andrew Macintosh and Richard Priest, Feilden Clegg Bradley Studios), EDITED BY: DAVID LITTLEFIELD

Selasa, 24 Februari 2009

Bagaimana cara belajar arsitektur dijital yang efektif

Cara belajar arsitektur dijital yang efektif menurut saya. Sebelum belajar arsitektur dijital tentunya kita harus mengenal terlebih dulu tentang arsitektur dijital itu sendiri (mengenai pengertian, komponen-komponen, dan tujuan arsitektur dijital itu seperti apa). Setelah kita tahu, maka kita akan tertarik dan berminat untuk mempelajarinya lebih mendalam. Langkah-langkah awal yang mungkin dapat kita lakukan untuk belajar arsitektur dijital adalah mempelajari software-software yang berkaitan dengan arsitektur dijital, namun tidak hanya sekedar membaca atau mendengarkan tutorial saja, akan tetapi kita juga harus mencobanya secara langsung agar software tersebut lebih mudah kita pahami dan kita mengerti. Untuk bisa lebih menguasai software-software tersebut tentunya kita tidak hanya sekali latihan langsung bisa, akan tetapi kita harus melakukan banyak latihan. Jika menemui kesulitan dalam belajar, kita seharusnya tidak malu untuk bertanya kepada orang yang lebih menguasainya.
Selain melakukan banyak latihan, kita juga harus berani mengikuti kompetisi-kompetisi agar kita dapat mengetahui seberapa besar tingkat kemampuan kita. Hal tersebut akan memacu kita untuk lebih maju dan lebih meningkatkan kualitas kita dalam berarsitektur dijital.

Selain dari usaha-usaha di atas, tentunya juga harus kita barengi dengan berdo’a, karna do’a adalah jurus paling ampuh dalam menghadapi apapun. Tapi jika hanya berdo’a saja tanpa melakukan usaha ya sama saja bohong.

Selamat mencoba cara ini dalam belajar arsitektur dijital...

Semoga Berhasil...

By :
Free Blog Templates